Jumat, 07 Februari 2014

Sahabat, Saudara, dan Guru

Ruang Ide - Saya bingung harus darimana tulisan ini dimulai karena ide menulis sedang tidak ada. Telah berulang kali saya berfikir, dan berulang kali pula kebuntuan yang saya dapatkan. Hingga akhirnya saya teringat sahabat, saudara saya, suatu ketika pernah mengatakan bahkan mengulanginya beberapa kali, bahwa ketika kita sedang tidak ada ide untuk menulis maka hal itu bisa kita ceritakan didalam sebuah tulisan.

Saudara saya itu benar. Di malam yang telah larut ini saya mencoba untuk merangkai kata demi kata. Alinea pertama telah saya tulis, tiba-tiba saya teringat dia. Kenapa tidak saya tulis tentang hubunganku dengan dia saja. Ide menulispun saya dapatkan, dan saya ingin menceritakan tentang betapa beruntungnya saya yang telah dipertemukan Allah dengan dia, sahabat, saudara saya yang baik itu.

Saya kenal dia sudah sejak lama, tapi tidak secara khusus. Dari segi usia, kami memang terpaut jauh. Tapi, saya tidak ingin menjadikan hal itu sebagai pembatas antara saya dengannya. Dia telah saya anggap sebagai kakak, sahabat, saudara dan guru.

Iya, dia juga adalah seorang guru bagi saya. Meskipun telah berulang kali dia mengatakan bahwa dia tidak mau menempatkan dirinya sebagai seorang guru. “Rasulullah saja tidak mempunyai murid, tapi sahabat. Jadi tidak pantas rasanya kalau kamu memanggil saya guru, ”elaknya suatu ketika. Tapi tetap saja, saya banyak mendapat pelajaran baik dunia maupun akhirat serta bimbingan darinya meskipun dengan atau tanpa embel-embel guru.

Sebagaimana saya yang sering berkunjung ke rumahnya, dia juga sering mengunjungi saya dan pada setiap pertemuan, dia selalu menasehati, memotivasi secara khusus agar saya bangkit dari tidur selama ini.

“Saya tidak sedang memuji kamu. Tapi saya mengakui talenta yang kamu miliki. Hanya kamu tidak menyadarinya,”katanya. Dia juga mengatakan bahwa dia tidak akan mengatakan hal khusus seperti ini kepada setiap teman. Saya tahu mana lahan yang subur, mana yang tandus. Saya tidak sedang menabur benih di aspal. Sungguh, kata-katanya melekat di benak saya.

Tiap kali dia mengucapkan hal itu, diri ini menjadi gelisah. Benarkah apa yang dia katakan. Dan, diri ini pun malu karena selama ini hanya memendam potensi yang dimiliki. Sungguh sangat disayangkan jika potensi ini tidak diasah atau digunakan untuk hal-hal yang akan mendatangkan manfaat lebih luas.

“Hidup ini adalah pilihan. Tinggal kamu yang memilih, mau jadi orang kebanyakan atau orang yang istimewa,”katanya.

Dari awal kedekatan kami, saya telah mengatakan kepadanya bahwa saya harus sering “ditampar”. Sebenarnya meskipun tanpa diminta dia akan “menampar” ketika saya telah dan sedang melakukan suatu kesalahan. Itulah salah satu keistimewaan yang saya dapatkan darinya. Tidak jarang hati ini basah ketika ditamparnya. Tapi, saya tetap saja diam di tempat.

Saya tidak tahu, sampai kapan hal ini akan tetap berlangsung. Yang saya tahu hanyalah bahwa saya harus berubah karena hidup ini adalah perubahan. Dari kecil berubah menjadi besar, dari muda berubah menjadi tua dan seterusnya.

“Hidup adalah bergerak, bergerak menuju perubahan, dan perubahan menuntut penyesuaian. Itulah salah satu kalimat yang sering diucapkannya. Sebagaimana dia mengagumi talenta yang saya miliki, saya jauh lebih kagum dengan apa yang dia miliki.

Di mata saya, dia adalah pribadi yang cerdas dan memiliki teman-teman yang cerdas pula. Saya bersyukur kepada Allah, karena melalui kedekatan saya dengannya, teman-teman jadi bertambah banyak. Inilah yang amat sangat membahagiakan saya. Saya sering terharu jika sedang mengenang hubungan ini.

Saya banyak menemukan hal-hal baru yang selama ini belum pernah saya jumpai dalam hidup. Saya ingin menceritakannya kepada ayah, tapi, saya mengalami hal ini setelah ayah tiada. Mungkin ayah turut merasakan kebahagiaan yang saya rasakan di alam sana. Baiklah, saya lanjutkan cerita tentang dia, sahabat, saudara dan guru ini.

Dia ingin sekali agar saya menjadi orang yang sukses, tentunya orang yang sukses dunia dan akhirat. Makanya, dia tidak bosan-bosannya memberikan motivasi, bimbingan dan ajaran. Sebagaimana layaknya seorang sahabat, saudara, dan guru.

“Setelah saya mengetahui apa yang kamu miliki, tidak ada alasan kamu untuk minder dan tidak percaya diri. Saya sangat yakin kamu bisa. Hanya kamu yang belum mau melakukannya,”katanya penuh semangat.

Sedang asyiknya saya mengetik, tiba-tiba anak sulung saya bangun dan mendekati. Dia tersenyum lebar memandang tanpa kata. Dalam hati saya menduga, mungkin dia senang dengan apa yang sedang saya lakukan. “Jika kamu senang, ayah akan terus melakukan hal ini, Nak,”batinku. Semoga Allah memberikan jalan. Aamiin.

Hati ini senang, ternyata tidak selamanya kebuntuan ide itu menyebalkan. Buktinya malam ini saya bisa mengatasinya. Meskipun tulisan ini jauh dari kata bagus apalagi sempurna. Insya Allah akan lebih bagus lagi setelah sering diasah. Sebagaimana kata pepatah, ala bisa karena biasa. Dan, saya yakin sebagaimana dia juga yakin bahwa saya bisa.

Berhubung mata sudah mulai lelah, maka saya cukupkan dulu ceritanya sampai disini. Terima kasih sahabat, saudara dan guru yang telah banyak memberi motivasi untuk merangkai kata demi kata. Namun, saya yakin tulisan ini belum mampu memenuhi keinginannya. Ini hanyalah permulaan. Saya berharap, semoga dia turut merasakan kebahagiaan yang sedang saya rasakan ketika mampu mengubah kebuntuan ide menjadi sebuah tulisan.

Batam, 13 Ramadhan 1430/3 September 2009
Re-post dari FB

***

Author Box

Hi, We are templateify, we create best and free blogger templates for you all i hope you will like this lightly template we have put lot of effort on this template, Cheers, Follow us on: Facebook & Twitter

  • Share to Facebook
  • Share to Twitter
  • Share to Google+
  • Share to Stumble Upon
  • Share to Evernote
  • Share to Blogger
  • Share to Email
  • Share to Yahoo Messenger
  • More...

0 komentar:

Posting Komentar